Power Rangers pun Menjadikan Al Quran
sebagai Dasar Membela Kebenaran di Muka Bumi
Go! Go! Power Rangers!
Go! Go! Power Rangers,
Mighty Morphin Power Rangers!
...
Senangnya mengenang salah satu pahlawan pembela kebenaran di muka bumi dengan kostum yang berwarna warni ini. Ada merah, biru, hitam atau hijau, kuning, dan merah muda (pink), lalu di belakang cerita tiba-tiba muncul pahlawan berwarna putih dengan kekuatan spesial. Bersama-sama mereka menumpas monster-monster yang bermunculan. Mulai dari monster semut, kecoa, tikus, harimau, bahkan monster yang dapat berubah menjadi besar (raksasa) yang akhirnya dapat dikalahkan dengan persenjataan super canggih serta robot yang mampu berubah bentuk dan bergabung. Yap! Taraaa... merekalah Power Rangers! Eh, jangan salah paham dulu ya? Penulis tidak akan bercerita panjang lebar tentang sejarah Power Rangers bumi yang markasnya hancur kemudian berganti markas pesawat ulang alik di luar angkasa, tetapi lebih pada konsep yang ditawarkan oleh pencipta sekuel Power Rangers itu sendiri. Sungguh konsep yang luar biasa. Bagaimana sang creator menciptakan pahlawan pembela kejahatan berkostum karakter binatang, kendaraan, dan kartu yang berjumlah kurang lebih lima dengan pemimpinnya si Rangers Merah.
Hubungan Rangers dengan Perintah dalam Al Quran
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat (orang) yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah kepada yang mungkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS ‘Ali ‘Imran[3]:104)
Jika boleh mengorelasikan antara ayat di atas dengan konsep gerakan yang dibangun oleh Power Rangers, maka cocok sekali, mereka -para Rangers- dapat dikatakan tengah menjalankan salah satu perintah Alloh yang terbaca di Quran surat ketiga ayat keseratus empat belas tadi yakni “hendaklah ada segolongan umat (orang) yang menyeru kepada kebajikan” sebagaimana tugas para Rangers yakni menumpas kejahatan dan berbuat kebajikan. Hal ini menjadi argumen yang kuat manakala melihat para Rangers yang lebih kurang berjumlah lima orang ini sepadan dengan ayat tersebut pada kalimat sebelumnya -hendaklah ada segolongan umat (orang)- yang dapat diartikan hanya ada beberapa orang saja atau intinya tidak banyak -kalau toh banyak, insyaAlloh dapat dihitung dengan jari.
Rangers juga mengenal konsep Al Qiyadah wal Jundiyah
Suatu hari Ranger Biru ngambek ingin jadi pemimpin. Dia merasa lebih hebat dari Ranger Merah yang terbiasa dan biasa menjadi pemimpin. Ranger Biru -sebut saja Fulan- adalah putra dari Ranger Merah terdahulu. Fulan yakin bahwa jabatan Ranger Merah akan jatuh di tangannya dan otomatis dia menjadi pemimpin. Namun, sudah kehendak sang pembuat skenario, tiba-tiba datang Agil yang ternyata menurut Atasan -biasanya setiap Power Rangers punya atasan entah manusia, peyihir, robot, atau mutan yang dijadikan koordinator pusat menjalankan organisasi kerangeran- lebih kompeten untuk memimpin pasukan Ranger. Fulan tidak terima. Pada hari itu juga bumi diserang oleh monster buaya. Agil seperti biasanya memimpin pasukan untuk mengalahkan monster tersebut. Akan tetapi, di awal, Ranger Biru sudah tidak rela dipimpin oleh Ranger Merah. Apa yang terjadi? Rangers pun kalah dan mundur sementara. Atasan memarahi Ranger Biru karena tidak mematuhi Ranger Merah. Singkat cerita, Ranger Biru akhirnya sadar akan kesalahannya dan mau dipimpin lagi oleh Ranger Merah. Sebagai pengikut atau yang dipimpin oleh Ranger Merah, Ranger Biru harus menyadari bahwa sebuah tim akan memperoleh menang dengan bekerja sama. Akan tetapi, kerja sama saja tidak cukup. Butuh ketaatan dan kepercayaan kepada pemimpin agar masing-masing jabatan bertindak sesuai fungsinya. Akhir cerita, monster buaya hancur lebur, Ranger Biru dan Ranger Merah kini menjalin persahabatan yang sangat akrab. Tiada jamaah tanpa pemimpin, tiada pemimpin tanpa ketaatan, dan tiada ketaatan tanpa kepercayaan.
Lalu?
Sudah seharusnya cerita, film, atau sekuel Power Rangers dijadikan ibrah bagaimana mereka -sang creator Power Rangers- yang notabenenya tidak menjadikan Al Quran sebagai aturan, pegangan hidup, serta kitab sucinya dapat secara tidak langsung menerapkan apa yang di dalam Al Quran untuk hal yang komersial dan berguna bagi perkembangan dunia entertainment mereka. Lalu bagaimana dengan kita yang mengaku bahwa Al Quran adalah kitab suci yang tiada keraguan di dalamnya? Apakah kita dapat mengambil ibrah, pelajaran, manfaat dari kitab kita sendiri?? Semua bermuara pada diri kita sendiri sebagai umat muslim, apakah akan menjadikan Al Quran sebagai penghias ruangan, meja belajar, dan rak buku? Atau menjadikannya penghias hati untuk selalu mengingat-Nya? Wallahu A’lam bish Showab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar