Powered By Blogger

Jumat, 27 Januari 2012

Dakwah

InsyaAlloh ini hasil dari diskusi satu malam dengan Mas'ul Haska, KM Musthofa, dan KM Al-Huda
Semoga bermanfaat.. ^^

http://www.4shared.com/office/M3dM-EEF/SHARING.html

Kamis, 12 Januari 2012

Seri Esai Profetik

Luqman-Luqman yang Modern
 
Islam mewajibkan kepada seluruh pemeluknya untuk mendasari hidup dan seluruh aktivitasnya pada Al Quran dan Al Hadits (As Sunnah) atau Sunnah Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam. Oleh karena itu, pemahaman akan Al Quran dan Sunnah Rasulullah haruslah mendalam dan penuh penghayatan. Sebab, kedua hal itulah yang merupakan pedoman umat islam dalam mengarungi bahtera kehidupan, dari lahir hingga dilahirkan kembali dari alam kubur.
Pentingnya Pendidikan pada Anak
Al Quran merupakan kitab yang berisi informasi, petunjuk, tuntunan, pedoman, aturan, dan juga hukum-hukum akan segala sesuatu yang ada di dunia. Sedangkan Al Hadits, Assunnah, atau pun Sunnah Rasulullah adalah representasi dari akhlak Nabi Muhammad yang bersumber dari Al Quran, bersifat aplikatif. Ketentuan-ketentuan ini sudah semestinya diterapkan semenjak dini pada diri seseorang yang mengaku muslim. Dan pelaksanaan ketentuan-ketentuan tersebut dapat dimaknai sebagai pengajaran atau pendidikan dalam rangka mengarungi samudera kehidupan agar selamat dunia dan akhirat. Pengajaran atau pendidikan yang bersumber dari Al Quran pasti akan sejalan dengan apa yang ada di Al Hadits. Oleh karena itu, Al Quran dan Al Hadits tidak boleh dipisahkan kaitannya dalam mendidik umat Islam.
Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang dimulai sejak dini, atau lebih tepatnya saat telah memasuki masa kanak-kanak. Penelitian menyebutkan bahwa otak manusia mengalami perkembangan dan penyerapan informasi yang cukup cepat ketika masa-masa itu (kanak-kanak). Hal ini pun dibuktikan oleh Al Quran pada surat ke-31 ayat 12 sampai dengan 19. Ya, surat itu bernama surat Luqman. Delapan ayat dalam surat Luqman menjadi saksi pendidikan Islam yang dilakukan kala itu. Pendidikan yang dilakukan seorang ayah kepada anaknya yang masih kecil. Akan tetapi, pembaca mungkin akan bertanya-tanya, apakah ketika Luqman memberikan nasihat dan pengajaran itu, anaknya masih kecil sebagaimana yang diterangkan di atas. Padahal kita tahu dalam tafsir surat tersebut, hanya ada kata “Ya, Anakku.”? Dan itu belum menjelaskan apakah anak itu masih kecil atau sudah dewasa? Nah.. Di sinilah gunanya Al Hadits atau As Sunnah yang bertindak sebagai penjelas dari pertanyaan tersebut.
Pendidikan Anak? Ya, Pendidikan Luqman pada Anaknya
 Pendidikan yang dilakukan pada Luqman adalah pendidikan yang menitikberatkan pada dialog hangat antara ayah (orang tua) kepada anaknya. Luqman telah diberi anugerah hikmah oleh Alloh Ta’ala sehingga kata-kata yang keluar dari mulutnya sebenarnya representasi dari firman Alloh yang diturunkan lewat perantara Luqman, “Dan sungguh telah kami berikan hikmah kepada Luqman..”. Pendidikan inilah yang seharusnya menjadi model awalan membangun komunikasi antara orang tua dengan anak.
Pada ayat 12, nasihat pertama yang dijelaskan di sana adalah agar kita selalu bersyukur, “Dan barang siapa bersyukur (kepada Alloh), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Alloh Mahakaya, Maha Terpuji.”. Hal ini memberikan gambaran kepada kita bahwa hal pertama yang semestinya kita tanamkan kepada anak-anak adalah tentang rasa syukur. Karena, dengan bersyukur, Alloh akan membukakan pintu rahmat dan hidayah-Nya sehingga seseorang akan mudah menerima petunjuk ke dalam hatinya. Apabila hatinya telah lapang menerima hidayah, maka ke depannya akan mudah bagi orang tersebut menerima kebaikan-kebaikan lainnya.
Ayat berikutnya adalah perintah agar tidak menyekutukan Alloh, “Wahai Anakku! Janganlah engkau menyekutukan Alloh, sesungguhnya mempersekutukan (Alloh) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.”. Kita dapat melihat bagaimana penanaman tauhid menjadi penguat nasihat pertama akan urgensi bersyukur kepada tuhannya. Mulai saat inilah, anak dituntun untuk mengucapkan dua kalimat syahadat yang di dalamnya terdapat kalimat tauhid yang merupakan syarat menjadi Muslim.
Ayat 14 dan 15 merupakan dasar (alasan) seorang anak untuk mematuhi orang tuanya (khususnya Ibu). Dijelaskan dengan gambling pada ayat 14, “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertamnbah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”. Akan tetapi, ketaatan atau kepatuhan kepada orang tua tetap tidak boleh mengalahkan ketaatan kita kepada Alloh. Secara tersirat ini dijelaskan di ayat 15 yang sekaligus menerangkan adab seorang anak kepada orang tuanya, “Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”.
Selanjutnya, pada ayat 16, “(Luqman berkata), “Wahai Anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Alloh akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Alloh Mahahalus, Mahateliti.”. Perkataan Luqman pada ayat ini dapat dikatakan sebagai awalan dalam menjalankan perintah dalam Islam yang berupa ibadah (amal, aplikatif). Perkataan Luqman di atas dapat diartikan sebagai motivasi sekaligus ancaman ketika kita melakukan amal selama hidup di dunia. Isi pada ayat 16 merupakan pelecut seseorang dalam melaksanakan apa yang ada di ayat 17, yaitu “Wahai Anakku! Laksanakanlah sholat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.”.
Pada ayat 17, kita dapat melihat bagaimana perintah yang sifatnya nampak (berupa amal perbuatan, bukan sekedar pekerjaan hati), sudah mulai disampaikan kepada anaknya. Begitu pula isi pada ayat 18 dan 19 yang dapat dikatakan sebagai efek yang seharusnya dicapai ketika kita telah melaksanakan sholat, menyuruh berbuat makruf serta mencegah dari kemungkaran, “Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. Dan sederhanakanlah dalam berjalan, dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”.
Kuno?
Cerita tentang pengajaran yang dilakukan Luqman terhadap anaknya memang sudah lampau sekali. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubur catatan berharga pendidikan yang dilakukan oleh Luqman terhadap anaknya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat memungkinkan seseorang dapat mengakses nasihat-nasihat yang ada lewat media tanpa harus bertatap muka langsung seperti yang dilakukan oleh Luqman. Handphone menjadi sarana efektif dalam menyampaikan tausiyah yang berupa kiriman-kiriman SMS. Ilmu pengetahuan telah mengubah paradigma sebagian orang bahwa pendidikan atau pelajaran Matematika, Komputer, Bahasa Inggris, Akuntansi adalah bidang pelajaran yang populer dan wajib dikuasai ketimbang pelajaran Agama Islam. Anak dikatakan pintar jika mendapatkan nilai 100 dari mata pelajaran yang populer tersebut. Sedangkan apabila nilai agama kecil, mereka tidak pernah memedulikannya. Lalu, apakah pendidikan yang dilakukan oleh Luqman dahulu dianggap ketinggalan zaman atau kuno sehingga para orang tua cenderung meninggalkannya? Dan sang anak lebih gemar bermain game daripada sholat, berbuat makruf, dan mencegah yang mungkar?
Menjadi Luqman yang Modern
          Luqman dan segala hal tentang pengajaran kepada anaknya tidaklah kuno sama sekali. Namun, dengan pernyataan tersebut, tidakkah secara langsung menyiratkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak sejalan dengan visi syariat Islam? Jawabanya pun juga tidak. Syariat Islam yang kali ini dinasihatkan Luqman kepada anaknya akan tetap sejalan dengan perkembangan yang terjadi di dunia sampai kapan pun. Oleh karena itu, sudah seharusnya sikap adaptif perlu dilakukan dalam rangka menjadi sosok Luqman-luqman yang modern di masa kini.
Perlu digarisbawahi, menjadi Luqman yang modern bukan berarti mengesampingkan atau menghilangkan makna Luqman yang tersebut dalam Al Quran. Menjadi Luqman yang modern merupakan sikap kritis terhadap dampak dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena pada dasarnya, Luqman yang tersebut di dalam Al Quran tidaklah modern atau pun kuno. Jika menjadi Luqman yang modern adalah bentuk dari penyempurnaan dari Luqman yang tersebut dalam Al Quran, maka hal itu berarti, Luqman yang dibicarakan sebelumnya adalah Luqman yang kuno dengan ajaran-ajaran yang kuno. 
   Luqman yang modern di sini lebih menitikberatkan pada cara penyampaian nasihatnya sebagai bentuk adaptasi terhadap era globalisasi, bukan pada ajarannya. Luqman-luqman yang modern hadir untuk membuktikan bahwa Islam dan segala ajarannya bukanlah agama yang gagap teknologi, kuno, terbelakang, percaya takhayul, tidak realistis, dan sebagainya. Luqman-luqman yang modern hadir menyempurnakan ajaran Islam yang menyeluruh, menyentuh ke segala bidang. Ia modis tanpa harus mengiris tauhid hingga habis. Ia up-to-date dan selalu terdepan. Ia penuh inspirasi dan motivasi.